Friday, May 26, 2017

Pengalaman ke Ternate -Hari Kedua-

Pengalaman PTT Daerah Halmahera Utara -PART 5-

15 April 2017
            Selamat pagi Ternate!
            Salah satu hal yang saya syukuri adalah ketika adik bawa perlengkapan mandi lengkap dengan sabun mandi. Kenapa? Karena di hotel tidak disediakan perlengkapan mandi, kecuali handuk. Kamar kelas ekonomi juga tidak menyediakan makan pagi, jadilah kami keluar hotel mencari sarapan, sekaligus melanjutkan city tour hari kedua kami. Putar-putar mencari pom bensin, ternyata masih tutup. Saya bertanya kepada bapak supir angkot, kata beliau pom bensin baru buka jam10 pagi. Akhirnya kami membeli bensin eceran di pinggir jalan. Terjawab sudah pertanyaan dalam hatiku kemarin. Mengapa hampir sepanjang jalan banyak terdapat penjual bensin eceran.

            Setelah motor diberi makan, giliran peurt kami yang perlu diberi makan. Putar-putar cari menu yang kira-kira sesuai dengan lidah kami. Pilihan jatuh pada penjual nasi kuning. Kami makan di tempat. Alhamdulillah rasanya sesuai selera kami. Tapi saya lupa harga pastinya berapa, seingat saya tidak jauh berbeda dengan harga makanan di galela. Sama-sama mahal, hehe. Katanya sih memang Ternate termasuk salah satu kota dengan biaya hidup tertinggi di Indonesia. Benarkah?

            Kami melewati masjid Raya Ternate. Tak lupa kami berfoto mengabadikan masjid ini. Dimana perusahaan yang dipercaya membangun masjid ini, membuat kalender yang setiap tahun dicetak oleh percetakan orang tua, sehingga ortu berpesan suruh mampir ke masjid ini. Masjid ini lumayan besar dan tinggi. Berbatasan langsung dengan laut, semakin menampilkan pesona masjid ini. Masjid Al-Munawwar.

Masjid Raya Ternate (Tampak depan)

Masjid Al-Munawwar
           
            Bila kemarin kami belok kiri dari masjid, maka sekarang kami berjalan ke sebelah kanan masjid. GPS Always On. Tempat pertama yang terdekat dari masjid adalah Kedaton kesultanan Ternate. Berhadapan langsung dengan alun-alun kota Ternate. Namun pagar kedaton terlihat masih tertutup rapat, kami pun melanjutkan perjalanan terlebih dahulu.

            Destinasi selanjutnya yaitu benteng Tolukko. Rupanya sama dengan kedaton, pagar benteng juga terkunci rapat. Kami sempat hopeless, karena siang ini harus check out, sedangkan objek wisata benteng ini dari luar begitu bagus, saying jika tidak mengabadikan dan melihat sampai ke dalam. Namun kami tidak putus asa. Di sebelah benteng terdapat rumah, sepertinya rumah penjaga benteng. Kami diberitahu bahwa benteng dibuka nanti sore. Kami menceritakan bahwa nanti sore harus kembali ke Halmahera. Alhamdulillah ibu penjaga berbaik hati membukakan gerbang benteng. Kami diminta sumbangan sebesar 10.000 rupiah. Tidak masalah bagi kami, asal diberikan kesempatan untuk masuk ke dalam.



Benteng Tolukko

            Setelah puas berfoto, kami melanjutkan perjalanan menuju pantai Sulamadaha. Lagi-lagi disponsori oleh GPS, sampai lah kami di pantai. Di pintu masuk diminta sumbangan sebesar 8.000 rupiah. Sepertinya yang ini tarikan resmi, karena ada karcisnya. Awalnya sempat ragu, karena berdasarkan informasi dari grup PTT bahwa pantai Sulamadaha merupakan pantai pasir putih, tapi ini kok hitam. Kami kroscek ke ibu penarik karcis. Kata beliau, kami disuruh jalan terus mengikuti jalan kecil beraspal. Dan memang benar, ada jalan kecil yang hanya muat dilewati pejalan kaki atau sepeda motor.
           
            Jalanannya lumayan jauh dan naik turun kadang curam. Hati-hati jaga keseimbangan. Sebelah kanan memang ada pagar pembatas, tapi tidak terlalu tinggi. Di luar pembatas merupakan lautan lepas. Namun di kanan kiri tampak pemandangan yang indah. Kiri bebatuan dan kanan gunung dan laut. Kalau ke sini sebaiknya pakai motor saja, kalau mau jalan kaki ke pantai pasir putihnya lumayan jauh. Bisa-bisa capek duluan sebelum snorkeling.
Jalan kecil menuju pantai Sulamadaha

            Oke sampailah di akhir jalan beraspal. Selanjutnya berjalan kaki, turun sebentar, hati-hati licin tanpa pegangan. Langsung tepi pantai. Ada beberapa warung di tepi pantai, selain menyediakan makanan minuman ringan seperti gorengan, mie instan, dan kopi, juga menyediakan persewaan alat snorkeling. Mulai dari sepatu katak, masker dan selangnya, serta jaket pelampung. Per item disewakan seharga 30.000 tanpa batas waktu. Ada juga persewaan ban pelampung, ukuran kecil 5.000 sedangkan yang besar 10.000.
           
Siap untuk Snorkeling

My First Snorkeling

            Airnya terasa dingin, semakin dalam kedalamannya semakin dingin, dan semakin gelap. Karangnya yang di tepian mati, tapi ikan hias khas lautan banyak bersliweran. Batu-batuan dasar laut lumayan besar-besar. MasyaALLAH. Ini pertama kali saya melihat bawah laut secara langsung. Thanks to my Brother yang bersedia mengawal saya. Tangan kirinya tidak pernah lepas dari saya. Maklum saya belum menguasai medan. Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat. Sudah jam11 siang. Mendekati waktu check out. Kami terburu-buru. Pulang dengan baju basah, karena memang tidak menyangka bila akan bermain air di sini.

            Kami bergegas menuju kedaton. Ternyata pagar depan masih tutup. Kami akhirnya mencoba bertanya kepada seseorang yang kebetulan ada di sana. Ternyata bisa lewat pintu belakang. Pintu belakangnya bergambar dua pedang bersilang, khas sekali. Sudah mulai berbau kesultanan gitu. Sebelum masuk, alas kaki harus dilepas. Kami diminta sumbangan 50.000 rupiah. Entahlah sepertinya sih kali ini illegal. Kami diantar oleh bapak penjaga kedaton. Ditunjukkan foto-foto sultan terdahulu. Kami juga diperbolehkan mengambil foto sepuasnya.      


Meja Makan Sultan



           

            Oke foto-foto secukupnya. Lalu bergegas menuju hotel. Siap-siap check out dan kembali ke Galela. Seperti jalur awal saat datang. Naik speed boat menuju Sofifi, lalu oto menuju Tobelo dan Galela. Alhamdulillah. Lumayan puas jalan-jalan ke Ternate kali ini. Semoga di lain waktu mendapat kesempatan untuk kembali ke sini. Semoga bermanfaat J

Wednesday, May 24, 2017

Pengalaman ke Ternate -Hari Pertama-

Pengalaman PTT Daerah Halmahera Utara -PART 5-

14 April 2017
            Pagi ini saya dan adik berangkat menuju Ternate. Destinasi yang paling nantikan. Meski masih menahan rasa kantuk, karena semalam begadang membuat tulisan nama-nama teman yang mau kami abadikan nanti di Ternate. Sekedar informasi, Ternate merupakan nama sebuah pulau sekaligus kota di provinsi Maluku Utara. Terkenal akan peninggalan sejarahnya, seperti benteng-benteng peninggalan Belanda, Portugis dan Spanyol. Selain itu, juga terdapat pasir putih dengan pemandangan bawah laut yang indah.

            Berhubung kami berangkat dari Galela, maka kami berangkat pagi sekitar pukul 06.30. Sebelumnya kami sudah memesan oto terlebih dahulu, sehingga bisa tepat waktu. Oto hanya sampai di kota Tobelo, selanjutnya kami oper Oto dengan tujuan Sofifi (ibukota Maluku Utara). Biaya perjalanan sebesar 120.000/orang. Perjalanan Tobelo-Sofifi cukup jauh. Di perjalanan oto berhenti sejenak untuk beristirahat. Kami berhenti di sebuah rumah makan. Dimana banyak oto dan penumpang lain yang juga beristirahat disana. Karena kami berdua sudah sarapan di rumah dinas, sehingga kami hanya numpang ke toilet J

            Perjalanan kami lanjutkan kembali. Di tepi jalan, saya melihat pantai dan hutan. Benar-benar pedalaman. Namun jalan utama berupa aspal, dan terlihat juga kabel listrik di sepanjang perjalanan. Jadi meskipun pedalaman, sepertinya listrik masih masuk, tapi tidak ada sinyal.

            Jam 11an siang kami tiba di pelabuhan Sofifi. Menurut informasi, bila naik speed boat lebih cepat, memakan waktu 30 menit, dengan harga tiket 50.000. Bila naik kapal Feri memakan waktu 1-1,5 jam, dengan harga tiket 20.000. Dan tentunya bila naik speed boat, barang bawaan terbatas, tidak bisa bawa banyak, termasuk kendaraan pribadi.

Pelabuhan Speed Boat Sofifi

Speed Boat menuju Ternate

Bagian dalam Speed Boat

Nah, sampailah di Ternate. Kesan pertama ketika sampai disini adalah panas. Panasnya ngga wajar. Fiuhh. Galela kalah, hehe. (FYI, Galela sama Surabaya masih panasan Galela). Seperti biasa, layaknya keluar dari terminal atau stasiun, maka para penyedia jasa transportasi akan berebut mendatangi penumpang. Di luar Pelabuhan Ternate, mereka  menyediakan jasa ojek dan mobil pribadi. Berhubung kami jalan-jalan ala backpacker, maka kami memutuskan menggunakan jasa ojek. Jasa ojek dikenakan biaya 10.000 rupiah jauh dekat untuk sekali jalan.

Berdasarkan arahan dari kapus (kepala puskesmas.red). Kami minta diturunkan menuju sebuah hotel (lupa namanya). Tempatnya tepat di depan Masjid Raya Ternate. Tapiii, setelah tanya-tanya resepsionis, ternyata harganya agak mahal untuk ukuran backpacker. Paling murah per malamnya 350 ribu, belum pajak. Akhirnya saya minta tolong pak ojek untuk mencarikan hotel yang murah-murah aja. Tidak masalah meski tempatnya tidak strategis. Di bawalah kami menuju sebuah hotel yang homey banget. Yap, bangunannya memang bangunan tua. Bapak penjaganya sudah berusia lanjut, tapi ramah sekali, melayani seperti keluarga. Harganya pun tidak terlalu mahal.

List Harga Kamar Hotel Indah

Bagian dalam kamar kelas ekonomi (Kamar mandi dalam)

Kami melobi bapak untuk mencarikan pinjaman sepeda motor. Didapatlah motor baru matic milik salah satu pak ojek kenalannya, lengkap dengan dua buah helm. Kami mendapatkan kesepakatan harga, yaitu 200.000 selama 24 jam. Yap, sama dengan hotel ini. Check ini jam12 siang, sampai besok check out jam12 siang.

Setelah mandi, akibat berkeringat selama perjalanan dan cuaca yang panas, kami menuju masjid Raya Ternate karena adik harus menunaikan sholat jum’at. Saya lanjut jalan-jalan sendiri di sekitar masjid. MasyaAllah. Memang benar Ternate ini suasana keislamannya sangat kental. Semua pertokoan tutup, termasuk mall, warung maupun pom bensin. Masjid-masjid penuh membludak. Barokallah.

Setelah adik selesai sholat jum’at, dimulailah our city tour. Berjalan lurus aja mengikuti GPS. Kami memilih mengikuti arah sebelah kiri terlebih dahulu. Tidak jauh dari masjid Raya, ada Taman Nukila. Disini bisa duduk-duduk santai sambil melihat pemandangan laut. Bisa pesan bakso dan es kelapa muda. Ada permainan anak-anaknya juga. Dan yang pasti tidak akan kepanasan, karena banyak pepohonan disini.

Taman Nukila

Nukila Diambil dari Nama Ratu Kesultanan Ternate

Duduk-duduk di taman nukila
Selanjutnya kami jalan lagi. Dan mata kami tertuju pada salah satu icon ternate. Sepertinya ini yang menjadi bukti konkret bahwa kami sudah menginjakkan kaki di Ternate.

I ❤ Ternate (1)

I ❤ Ternate (2)

Sebelum melanjutkan perjalanan, kami mengisi perut terlebih dahulu. Hanya 50 meter dari sini, terdapat rumah makan yang rame pengunjung. Satu-satunya menu disini adalah ayam bakar madu. Harganya 15.000 all in. Nasi dan air putih boleh tambah sepuasnya. Oh, pantesan rame ya. Tapi rasanya juga lumayan enak lho. Mirip rasa Jawa Timuran. Dan bener saja, ternyata pemiliknya berasal dari Jawa. Bahkan pelayan-pelayannya memakai bahasa Jawa Timuran. Hmm. Boleh diulang lagi nih. Recommended buat yang lagi singgah di Ternate.

Menunggu pesanan

Hak perut sudah terpenuhi, saatnya melanjutkan kembali perjalanan. Pasang masker dulu, hari semakin panas. Buka GPS lagi. Trip selanjutnya yaitu Benteng Kalimata. Kalau dari luar, tidak terlihat papan nama dan bangunannya. Jadi kami sempat salah masuk ke arena kolam renang Kalimata, yang berada tepat di sebelah benteng. Bentengnya lumayan bagus. Masih terlihat kerangkanya.
Benteng Kalimata (Tampak Samping)

Benteng Kalimata (Bagian atas)

Selanjutnya, kami menuju Benteng Kastela.  Sedikit jauh jarak antar kedua benteng. Kira-kira 20 menit naik motor kecepatan santai. Tepat di belakang masjid, masuk gang ke kiri, terdapat pintu masuk benteng kastela. Bentengnya tinggal reruntuhan, tapi masih terlihat gagahnya. Hati-hati dengan tanaman liar. Ada semacam biji kecil-kecil, ala durian mini, menempel di Rok atau celana. Lumayan menusuk kulit kalau tembus. Padahal saya pakai kaos kaki, tapi terasa juga.

Benteng Kastela

Sejarah Benteng Kastela

Next trip, ini salah satu yang paling ditunggu. Foto di background uang seribu rupiah. Coba cari di GPS wilayah Gambesi atau Puskesmas Gambesi. Nanti lurus aja menuju pantai, melewati rumah-rumah penduduk. InsyaAllah nanti akan menemukan pemandangan seperti yang ada di uang seribu. Tampak pulau Maitara dan Tidore. Berwarna hijau dan biru. Tapi saya kurang tahu, Tidore yang warna hijau atau biru. Untuk menuju bibir pantai harus jalan kaki. Waktu itu motor kami parkir di depan sebuah rumah makan. Harapannya ada yang ikut melihat.

Sebenarnya ada tumpukan batuan supaya bisa mendapat spot foto yang lebih bagus. Hanya saja saya tidak berani naik ke sana, maklum tidak bisa berenang, kalau tiba-tiba jatuh kan ngga lucu. Adik coba ke sana bawa kamera, tapi tidak ada yang memegang tulisan dan uang seribunya, sehingga diputuskan dia yang ngalah, ikut saya foto di bawah, maaf ya, hehe.

Background uang 1.000 Rupiah




Dilanjut lagi ya perjalanannya. Kali ini GPS menunjuk ke arah pantai yang bernama Bobane Ici. Hati-hati karena pintu masuknya berupa jalanan yang menurun, meski tidak setajam danau Ngade, tapi tetap pelan-pelan saja. Pantai Bobane Ici ini pantai berpasir hitam. Pantai ini sepertinya berupa paket wisata. Jadi ada kolam renang yang menghadap laut, rumah makan, ruang pertemuan dan penginapan. Untuk kolam renang dikenakan biaya 20.000 per orang, sedangkan biaya parkir motor dikenakan biaya 5.000 rupiah.

Sembari menunggu adik sholat ashar di mushola dekat penginapan, saya mencoba menu es kelapa muda. 1 gelas dihargai 10.000 rupiah. Tapi sangat memuaskan dahaga saya, rasanya juga enak dan asli. Mungkin karena rasa gula arennya, ditambah saya juga posisi sangat haus, hehe. Saya menikmati minuman dingin sekaligus menyaksikan live karaoke salah satu keluarga besar. Kalau tidak salah, per judul lagu yang dinyanyikan, dikenakan biaya 5.000 rupiah.

Pantai Bobane Ici

Karena hari sudah mulai gelap, kami memutuskan balik arah, kembali ke arah hotel. Di GPS kami melewati danau Ngade, tapi kami tidak melihat pintu masuk danau tersebut. Akhirnya kami bertanya ke salah satu warga setempat. Ternyata pintu masuk menuju danau Ngade sangat kecil. Hanya bisa dilewati sepeda motor atau pejalan kaki. Bila naik mobil, maka harus diparkir diluar pintu, dilanjutkan jalan kaki. Bagi penumpang, harap pegangan erat ya ketika turun. Jalan masuknya berupa turunan curam, hampir 45 derajat. Tapi jalannya beraspal bagus, tidak seperti telaga biru galela.
Sama seperti danau Galela (Telaga Duma (baca: https://dijafirdausi.blogspot.co.id/2017/05/pengalaman-ke-tanjung-bongo-galela.html ) di sini juga disediakan menu ikan air tawar bakar yang segar karena pembeli dapat memilih sendiri ikan yang akan ditangkap di danau.
Danau Ngade

Nah, lumayan banget kan, jalan-jalan kali ini, dalam waktu 6 jam, kami bisa berkeliling ke berbagai destinasi wisata di ternate. Didukung oleh arahan GPS dan sewa motor pribadi yang membuat lebih fleksibel. Hari mulai gelap, perut mulai lapar. Saatnya kembali ke hotel.

Di dekat hotel, terdapat beberapa warung makan yang hanya buka ketika malam hari. Kami berjalan kaki menuju salah satu warung. Asal pilih saja, karena semua warung menyajikan menu yang sama, yaitu sup Kondro, sup Saudara, dan coto Makassar. Adik memesan coto Makassar, dan saya memesan sup kondro. Kami niat pesan yang berbeda, supaya bisa saling mencoba. Lalu bapak penjual, bertanya, apa memang saya suka sup kondro. Saya menjawab bahwa saat ini saya baru pertama kali makan sup tersebut. Beliau memberi tahu bahwa sup kondro isinya hanya tulang belulang, tanpa daging, dan kembali menanyakan apakah saya tetap mau pesan sup kondro. Kami tertawa spontan.

Akhirnya saya mengganti pesanan, dari sup kondro menjadi sup saudara. Sup ini kuahnya jernih, isinya ada su’un dan daging yang dipotong dadu, diatasnya ditaburi daun seledri serta bawang goreng diatasnya. Rasanya segar, tapi sedikit kurang asin, sehingga saya tambah garam sendiri. Bila ingin lebih kenyang dapat menambahkan lontong ketupat sebagai pengganti nasi. Harganya 25.000 per porsi.

Sup Saudara

Coto Makassar


Oke kita tutup perjalanan hari dengan Alhamdulillah. Selamat istirahat ☺

Pengalaman ke Rumah Adat Hibualamo, Meriam Peninggalan Perang Dunia 2, Tugu Hibualamo, dan Masjid Raya yang ada di Tobelo, Halmahera Utara

Pengalaman PTT Daerah Halmahera Utara -PART 2-

05 April 2017
            Pagi hari, masih di hotel di Tobelo, alarm hp terpasang jam04.00. Saya terbangun. Padahal itu alarm masih WIB, jadi kalau dikonversi masih pagi buta di sini. Bangun tidur kehausan. Di sana sudah disediakan air mineral produksi lokal. Rasanya sedikit beda, tapi maaf tidak bisa menjelaskan. Setelah itu lanjut tidur lagi. Adzan subuh jam 05.00 WIT.

Air mineral produksi lokal

Setelah sedikit terang, saya dan adik jalan-jalan ke sekeliling hotel. Kebetulan di dekat hotel ada tugu hibualamo. Jalan kaki 5 menit, sampai lah di tugu. Dibuat di tengah jalan sebagai bundaran.
Tugu Hibualamo

Jalan lagi, nyebrang ke kanan dari tugu. Ada replika rumah adat Hibualamo. Kami masuk ke dalamnya. Namanya juga replika, jadi dalamnya bukan interior rumah adat yang sesungguhnya, melainkan suatu mini panggung lengkap dengan kursi penonton. Sepertinya replika rumah adat ini menjadi mini gedung teater atau gedung pertemuan.
Replika Rumah Adat Hibualamo

Di bagian samping kiri dari rumah adat terdapat meriam peninggalan perang dunia kedua. Kalau yang ini asli, bahkan sampai berkarat dan tidak terawat. Berdekatan dengan sampah.
Meriam peninggalan perang dunia kedua

 Kami jalan-jalan lagi, suasana pagi di Tobelo masih sepi. Belum banyak kendaraan berlalu-lalang. Paling hanya anak-anak sekolah dan bentor. Kami kembali lagi ke sekitar hotel, jalan sekitar 5 menit, tidak jauh di belakang hotel ada masjid Raya Tobelo.
Suasana jalanan pagi hari di Tobelo

Masjid Raya Tobelo

Matahari mulai terik, dan kendaraan mulai ramai. Kurang efektif dibuat jalan kaki. Kami memutuskan kembali ke hotel. Sarapan sudah disiapkan. Sarapan nasi bungkus. Menunya nasi kuning, kering singkong dan ikan tuna goreng. Lumayan lah. Meski masih enak rasa nasi kuning di jawa, atau karena lidah saya memang lidah jawa, hehe.. Tidak lupa ngelist objek wisata apa aja yang ada di Halmahera Utara. Lihat peta yang tertempel di hotel.
Peta Objek Wisata Halmahera Utara

Jam10.00 WIT saya janjian sama pak Ivan dinkes Tobelo untuk menyerahkan berkas-berkas PTT. Tapi sudah jam10.15 belum ada jemputan. Saya telepon tidak diangkat. Akhirnya memutuskan naik bettor (becak motor) dengan tarif 5.000/orang. Minta diantar meuju dinkes. Sampai sana beliau belum ada. Saya lihat jam di ruangan ternyata belum jam10. Jam di dinding ruangan masih jam09.30. Jadi lah saya menunggu disana. Tak lupa utak-atik hp supaya menunjukkan WIT. Akhirnya saya set up dengan Waktu Seoul/Tokyo (GMT +9).

Dinas Kesehatan Halmahera Utara

Setelah menyerahkan berkas dan bertemu pak Ivan. Saya kembali ke hotel. Packing. Siap-siap menuju tempat tugas di Galela. Sebelum berangkat diajak makan siang dulu.

Menu makan siang

Menunya ikan bakar, tumis kangkung, kasbi rebus (semacam singkong yang direbus bersama santan), dan dabu-dabu mentah (ini kalau di jawa, kami menyebutnya sambal dabu-dabu, padahal dabu-dabu sudah bermakna sambal disini). Rasanya enak semua. Setelah selesai makan, langsung bertolak menuju Galela.

Thursday, May 4, 2017

Download Video & Lirik (Inggris dan Indonesia) ‘Al Habib (The Loved One)’

Assalamualaykum.
Kali ini saya ingin berbagi lirik terjemahan bahasa indonesia dari salah satu nasyid favorit saya. Bahasanya puitis dan tersirat makna yang dalam, semoga bisa mengambil hikmah dari lirik ini. Selamat menikmati.


LYRICS (ENGLISH VERSION)
AL HABIB (The Loved One)
By : Talib Al Habib

La illaha il Allah
Muhammadun Rasoul Allah
Alaihi Salatullah
Wa alihi wal ahibba (2x)

Shine your mercy like the sun
And be gracious as the Earth
Let your kindness come like rain
That cares not whom it falls upon

And Let ocean deep your wisdom be
Your heart a lantern spreading Peace,
Give yourself in love of Him,
Be like Al Habib

And in your deepest need
And in your deepest grief,
Call on Him in humility
Please your trust in the One,
To whom creation turns,
You’ll find redemption and find peace

La illaha il Allah
Muhammadun Rasoul Allah
Alaihi Salatullah
Wa alihi wal ahibba

Be a blazing fire of Truth
Be his soothing bond of peace
With the light of your sincerity,
Break the clouds of tyranny

Let your faith be like a blessed tree,
Give your shades to all who seek,
May your roots run true and deep,
Take your strength from Al Habib

Ya Nabi Salam Alaik
Ya Rasoul Salam Alaik
Ya Habib Salam Alaik
Salawatullah alaik

And know that certainty will bring tranquility
Contentment with Allah’s decree
Give thanks for all that comes
Be patient and know that,
Someday you will return to Him

La illaha il Allah
Muhammadun Rasoul Allah
Alaihi Salatullah
Wa alihi wal ahibba

Hold fast to the company
Of the folk of certainty
Trough their gaze and trough your love for them,
May you be as one of them

Be as gentle as the whispering breeze,
Spread solace to the world were in,
Let your heart and soul be mirror clear,
Give life and love to Al-Habib

Ya Nabi Salam Alaik
Ya Rasoul Salam Alaik
Ya Habib Salam Alaik
Salawatullah alaik

And stand before Allah
Like nothing else exists,
And worship Him like you are seen,
Be with all creation
In all your deeds and words
As though you have no self to please

La illaha il Allah
Muhammadun Rasoul Allah
Alaihi Salatullah
Wa alihi wal ahibba

Yet when you master all of this,
Forget not your neediness
Were it not for Allahs grace,
None of this can be achieved

So be humble as the lowly earth
That all creatures walk upon
Be the slave of the Most Merciful
Take your light from Al-Habib

So shine your mercy like the sun
Send your light across the earth
Let your kindness flow like rivers
Quench the thirst of all who come

And let mountain-strong your spirit be,
Let your heart melt out of love for Him
Take the road that leads to Him
May you be with Al-Habib

Ya Nabi Salam Alaik
Ya Rasoul Salam Alaik
Ya Habib Salam Alaik
Salawatullah alaik (2x)

La illaha il Allah
Muhammadun Rasoul Allah
Alaihi Salatullah
Wa alihi wal ahibba (2x)

LIRIK (VERSI INDONESIA)
AL HABIB (Sang Kekasih)
Oleh : Talib Al Habib

Tiada Tuhan selain Allah
Muhammad adalah utusan Allah
Limpahkanlah sholawat kepadanya
Keluarga dan sahabatnya (2x)

Pancarkan kemurahan hatimu seterang matahari
yang menerangi bumi,
Jadikan kebaikanmu mengucur deras bagai hujan
yang peduli kepada siapa saja

Dan jadikan kearifanmu sedalam samudra,
Hatimu menjadi lentera yang meneduhkan,
Jatuh cintalah padaNya,
seperti Al Habib

Bila memiliki keingininan yang besar,
Bila memiliki kesedihan yang dalam,
Berdo’alah dengan kerendahan hatimu,
Percayalah pada Yang Maha Esa
Pada Yang Maha Pencipta,
Dia akan mengampuni dosamu dan kamu akan menemukan ketenangan jiwa

Tiada Tuhan selain Allah
Muhammad adalah utusan Allah
Limpahkanlah sholawat kepadanya
Keluarga dan sahabatnya

Tegakkan kebenaran bagaikan api yang berkobar,
Menjadi perantara terbentukya kedamaian,
Dengan kesungguhanmu,
Hapuskan kezaliman

Nyalakan semangatmu seperti sebuah pohon,
Berikan bayanganmu (perlindunganmu) kepada siapa pun yang memerlukan,
Semoga akarmu menjulur dengan benar dan dalam,
Memohon kekuatan dari Al Habib

Wahai Nabi salam untukmu
Wahai Rasul salam untukmu
Wahai Sang Kekasih salam untukmu
Semoga sholawat selalu tercurah untukmu

Dan mengetahui bahwa keyakinan yang kuat akan memberikan ketenangan
Menerima segala ketetapan Allah
Bersyukur atas segala karunia
Bersabar dan percaya bahwa
Suatu saat nanti kamu akan kembali menghadapNya

Tiada Tuhan selain Allah
Muhammad adalah utusan Allah
Limpahkanlah sholawat kepadanya
Keluarga dan sahabatnya

Bergabunglah ke dalam golongan orang-orang sholeh
Yang berjama’ah dan memiliki keyakinan yang sama
Melalui pandangan mereka dan melalui cintamu terhadap mereka
Semoga kamu termasuk golongan mereka

Dengan lemah lembut bagaikan angin sepoi-sepoi
Menjadi pelipur lara bagi dunia
Jadikan hati dan jiwamu sejernih cermin
Serahkan seluruh hidup dan cintamu kepada Sang Kekasih

Wahai Nabi salam untukmu
Wahai Rasul salam untukmu
Wahai Sang Kekasih salam untukmu
Semoga sholawat selalu tercurah untukmu

Bergantunglah hanya pada Allah
Bayangkan seolah-olah hanya ada kamu di dunia ini
Beribadahlah dengan khusyu’ seakan-akan kamu melihatNya,
Dengan ciptaan Allah yang ada padamu,
Dengan seluruh perbuatan dan perkataanmu,
Hanya mengaharap ridhoNya.

Tiada Tuhan selain Allah
Muhammad adalah utusan Allah
Limpahkanlah sholawat kepadanya
Keluarga dan sahabatnya

Meski kamu sudah melakukan semua hal tersebut,
Jangan lupakan keinginanmu,
Jika bukan karena Allah Yang Maha Pemurah,
Keinginanmu tidak akan ada yang terpenuhi

Maka jadilah orang yang rendah hati seperti permukaan bumi,
Dimana semua ciptaan Allah dapat berjalan di atasnya
Menjadi hamba dari Yang Maha Pemurah
Memperoleh petunjuk dari Sang Kekasih

Maka pancarkan kemurahan hatimu seterang matahari
yang menerangi bumi,
Jadikan kebaikanmu mengalir deras seperti sungai
Menjadi pelepas dahaga bagi siapa saja yang haus

Tegakkan semangatmu seperti kokohnya gunung,
Biarkan hatimu jatuh cinta padaNya
Menuju jalan lurusNya
Semoga engkau dapat menjadi kekasihNya

Wahai Nabi salam untukmu
Wahai Rasul salam untukmu
Wahai Sang Kekasih salam untukmu
Semoga sholawat selalu tercurah untukmu (2x)

Tiada Tuhan selain Allah
Muhammad adalah utusan Allah
Limpahkanlah sholawat kepadanya
Keluarga dan sahabatnya (2x)


PS : Maafkan kemampuan translate yang apa adanya, hehe..