Friday, May 26, 2017

Pengalaman ke Ternate -Hari Kedua-

Pengalaman PTT Daerah Halmahera Utara -PART 5-

15 April 2017
            Selamat pagi Ternate!
            Salah satu hal yang saya syukuri adalah ketika adik bawa perlengkapan mandi lengkap dengan sabun mandi. Kenapa? Karena di hotel tidak disediakan perlengkapan mandi, kecuali handuk. Kamar kelas ekonomi juga tidak menyediakan makan pagi, jadilah kami keluar hotel mencari sarapan, sekaligus melanjutkan city tour hari kedua kami. Putar-putar mencari pom bensin, ternyata masih tutup. Saya bertanya kepada bapak supir angkot, kata beliau pom bensin baru buka jam10 pagi. Akhirnya kami membeli bensin eceran di pinggir jalan. Terjawab sudah pertanyaan dalam hatiku kemarin. Mengapa hampir sepanjang jalan banyak terdapat penjual bensin eceran.

            Setelah motor diberi makan, giliran peurt kami yang perlu diberi makan. Putar-putar cari menu yang kira-kira sesuai dengan lidah kami. Pilihan jatuh pada penjual nasi kuning. Kami makan di tempat. Alhamdulillah rasanya sesuai selera kami. Tapi saya lupa harga pastinya berapa, seingat saya tidak jauh berbeda dengan harga makanan di galela. Sama-sama mahal, hehe. Katanya sih memang Ternate termasuk salah satu kota dengan biaya hidup tertinggi di Indonesia. Benarkah?

            Kami melewati masjid Raya Ternate. Tak lupa kami berfoto mengabadikan masjid ini. Dimana perusahaan yang dipercaya membangun masjid ini, membuat kalender yang setiap tahun dicetak oleh percetakan orang tua, sehingga ortu berpesan suruh mampir ke masjid ini. Masjid ini lumayan besar dan tinggi. Berbatasan langsung dengan laut, semakin menampilkan pesona masjid ini. Masjid Al-Munawwar.

Masjid Raya Ternate (Tampak depan)

Masjid Al-Munawwar
           
            Bila kemarin kami belok kiri dari masjid, maka sekarang kami berjalan ke sebelah kanan masjid. GPS Always On. Tempat pertama yang terdekat dari masjid adalah Kedaton kesultanan Ternate. Berhadapan langsung dengan alun-alun kota Ternate. Namun pagar kedaton terlihat masih tertutup rapat, kami pun melanjutkan perjalanan terlebih dahulu.

            Destinasi selanjutnya yaitu benteng Tolukko. Rupanya sama dengan kedaton, pagar benteng juga terkunci rapat. Kami sempat hopeless, karena siang ini harus check out, sedangkan objek wisata benteng ini dari luar begitu bagus, saying jika tidak mengabadikan dan melihat sampai ke dalam. Namun kami tidak putus asa. Di sebelah benteng terdapat rumah, sepertinya rumah penjaga benteng. Kami diberitahu bahwa benteng dibuka nanti sore. Kami menceritakan bahwa nanti sore harus kembali ke Halmahera. Alhamdulillah ibu penjaga berbaik hati membukakan gerbang benteng. Kami diminta sumbangan sebesar 10.000 rupiah. Tidak masalah bagi kami, asal diberikan kesempatan untuk masuk ke dalam.



Benteng Tolukko

            Setelah puas berfoto, kami melanjutkan perjalanan menuju pantai Sulamadaha. Lagi-lagi disponsori oleh GPS, sampai lah kami di pantai. Di pintu masuk diminta sumbangan sebesar 8.000 rupiah. Sepertinya yang ini tarikan resmi, karena ada karcisnya. Awalnya sempat ragu, karena berdasarkan informasi dari grup PTT bahwa pantai Sulamadaha merupakan pantai pasir putih, tapi ini kok hitam. Kami kroscek ke ibu penarik karcis. Kata beliau, kami disuruh jalan terus mengikuti jalan kecil beraspal. Dan memang benar, ada jalan kecil yang hanya muat dilewati pejalan kaki atau sepeda motor.
           
            Jalanannya lumayan jauh dan naik turun kadang curam. Hati-hati jaga keseimbangan. Sebelah kanan memang ada pagar pembatas, tapi tidak terlalu tinggi. Di luar pembatas merupakan lautan lepas. Namun di kanan kiri tampak pemandangan yang indah. Kiri bebatuan dan kanan gunung dan laut. Kalau ke sini sebaiknya pakai motor saja, kalau mau jalan kaki ke pantai pasir putihnya lumayan jauh. Bisa-bisa capek duluan sebelum snorkeling.
Jalan kecil menuju pantai Sulamadaha

            Oke sampailah di akhir jalan beraspal. Selanjutnya berjalan kaki, turun sebentar, hati-hati licin tanpa pegangan. Langsung tepi pantai. Ada beberapa warung di tepi pantai, selain menyediakan makanan minuman ringan seperti gorengan, mie instan, dan kopi, juga menyediakan persewaan alat snorkeling. Mulai dari sepatu katak, masker dan selangnya, serta jaket pelampung. Per item disewakan seharga 30.000 tanpa batas waktu. Ada juga persewaan ban pelampung, ukuran kecil 5.000 sedangkan yang besar 10.000.
           
Siap untuk Snorkeling

My First Snorkeling

            Airnya terasa dingin, semakin dalam kedalamannya semakin dingin, dan semakin gelap. Karangnya yang di tepian mati, tapi ikan hias khas lautan banyak bersliweran. Batu-batuan dasar laut lumayan besar-besar. MasyaALLAH. Ini pertama kali saya melihat bawah laut secara langsung. Thanks to my Brother yang bersedia mengawal saya. Tangan kirinya tidak pernah lepas dari saya. Maklum saya belum menguasai medan. Tidak terasa waktu berjalan dengan cepat. Sudah jam11 siang. Mendekati waktu check out. Kami terburu-buru. Pulang dengan baju basah, karena memang tidak menyangka bila akan bermain air di sini.

            Kami bergegas menuju kedaton. Ternyata pagar depan masih tutup. Kami akhirnya mencoba bertanya kepada seseorang yang kebetulan ada di sana. Ternyata bisa lewat pintu belakang. Pintu belakangnya bergambar dua pedang bersilang, khas sekali. Sudah mulai berbau kesultanan gitu. Sebelum masuk, alas kaki harus dilepas. Kami diminta sumbangan 50.000 rupiah. Entahlah sepertinya sih kali ini illegal. Kami diantar oleh bapak penjaga kedaton. Ditunjukkan foto-foto sultan terdahulu. Kami juga diperbolehkan mengambil foto sepuasnya.      


Meja Makan Sultan



           

            Oke foto-foto secukupnya. Lalu bergegas menuju hotel. Siap-siap check out dan kembali ke Galela. Seperti jalur awal saat datang. Naik speed boat menuju Sofifi, lalu oto menuju Tobelo dan Galela. Alhamdulillah. Lumayan puas jalan-jalan ke Ternate kali ini. Semoga di lain waktu mendapat kesempatan untuk kembali ke sini. Semoga bermanfaat J

No comments:

Post a Comment